Home / uang / Strategi Garuda Indonesia Atasi Tagihan Mencapai Rp 1 T per Bulan

Strategi Garuda Indonesia Atasi Tagihan Mencapai Rp 1 T per Bulan

Warta.top – Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan dari PT Garuda Indonesia terkait dengan kondisi keuangan perusahaan saat ini, dimana terdapat tagihan sebesar Rp 1 triliun setiap bulannya. Bursa meminta penjelasan tentang upaya maskapai untuk mendapatkan surplus tunai setiap bulannya.

VP Sekretaris Perusahaan Garuda Indonesia, Mitra Piranti mengatakan perusahaan terus meningkatkan kinerja. Hal ini didukung dengan vaksinasi yang terus dilakukan.

“Perusahaan terus berupaya meningkatkan kinerja operasional dengan dukungan program vaksinasi yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah,” kata Mitra dalam keterbukaan informasi, Jakarta, ditulis Jumat (11/6).

Pendapatan juga didorong melalui program peningkatan pendapatan dan efisiensi yang dijalankan perusahaan. Perusahaan, lanjutnya, juga akan melakukan pengelolaan arus kas yang optimal antara pendapatan yang diterima dengan kewajiban yang harus dibayarkan setiap bulannya.

“Ini tentunya juga melibatkan proses negosiasi dan diskusi dengan pihak terkait termasuk vendor, lessor dan kreditur,” kata Mitra.

Ini adalah Penyebab Finansial Garuda Indonesia Alami Tekanan Besar

Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Toto Pranoto menjelaskan mengapa keuangan PT Garuda Indonesia terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, kini keuangan maskapai milik negara itu mengalami tekanan luar biasa akibat akumulasi utang.

Toto menjelaskan keuangan Garuda Indonesia sebelum dan sesudah pandemi masuk ke Indonesia. Sebelum Covid-19, keuangan Garuda Indonesia masih bisa menghasilkan pendapatan. Sedangkan pasca Covid-19 pendapatan ada tapi terus menurun.

“Dari laporan keuangan Garuda kuartal III 2019 dan kuartal III 2020, setelah dan sebelum Covid masuk. Pendapatan saja, 9 bulan 2019 masih bisa menghasilkan USD 3,5 miliar. Kemudian 9 bulan 2020 hanya bisa menghasilkan USD 1,1 miliar sehingga pendapatan mereka turun hampir 67 persen,” kata Toto dalam diskusi daring, Jakarta, Selasa (8/6).

Pengeluaran dan biaya operasional mengalami penurunan selama pandemi. Dimana tahun lalu, Toto mencatatkan beban dan biaya operasional turun hampir 31 persen.

“Masalahnya, struktur biaya mereka pada 3 bulan pertama 2019 mencapai USD 3,2 miliar tahun lalu, angkanya juga turun di 3 bulan pertama 2020 menjadi USD 2,2 miliar. Jadi struktur biaya turun 31 persen, sedangkan pendapatan turun 67 persen. Hal ini menyebabkan tekanan keuangan Garuda Indonesia yang sangat besar,” jelasnya.

Struktur biaya terbesar untuk pembiayaan sewa pesawat adalah 75 persen. Sisanya, kemudian, terdiri dari utang jangka pendek dan jangka panjang. Dengan demikian, keputusan untuk bernegosiasi dengan lessor dianggap sebagai pilihan yang tepat.

“Kalau kita lihat, kontribusi terbesar terhadap struktur biaya Garuda Indonesia adalah utang jangka pendek, kewajiban anjak piutang. Yaitu utang jangka pendek, utang jangka panjang dan 75 persen sewa pesawat,” jelasnya.

“Jadi langkah Garuda Indonesia dan Kementerian BUMN untuk bernegosiasi dengan lessor pesawat, saya kira yang utama karena beban keuangan Garuda sangat besar,” ujarnya.

[bim]

Baca juga:
Nasib Garuda Indonesia sama potensialnya dengan merpati
Pemerintah Kucurkan Rp 1 Triliun ke Garuda Indonesia, Cukup Bayar Avtur
Dampak Pandemi Covid-19, Hanya 53 Pesawat Garuda Indonesia yang Beroperasi
Garuda Indonesia Belum Bayar Gaji Karyawan Rp 328 Miliar
Cara ini dinilai mampu menyelamatkan Garuda Indonesia dari kebangkrutan
Kisah Garuda Indonesia Airlines Hampir Bangkrut di Era SBY
INDEF Sebut Masalah Garuda Indonesia Seperti Gunung Es

.


Source link

Check Also

BRI kembali dinobatkan sebagai brand bank paling bernilai di Indonesia

Warta.top – BRI kembali tercatat sebagai brand bank paling bernilai di Indonesia dalam riset yang …

Leave a Reply