Home / uang / Perpanjangan Kebijakan Restrukturisasi Kredit OJK Dinilai Memperkuat Sistem Keuangan

Perpanjangan Kebijakan Restrukturisasi Kredit OJK Dinilai Memperkuat Sistem Keuangan

Warta.top – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan untuk memperpanjang penundaan restrukturisasi kredit hingga tahun 2022. Langkah ini diambil guna mengantisipasi penurunan kualitas debitur dalam menjalankan kewajibannya.

Keputusan ini disambut positif karena dapat membuat para pelaku bisnis bernafas lega, karena dampak pandemi Covid-19 belum juga mereda. Kondisi perekonomian juga masih dilanda ketidakpastian, meski telah menunjukkan tren peningkatan sejak triwulan II tahun 2020 yang dinilai sebagai level terendah dalam perekonomian.

“Meski menunjukkan tren membaik, namun kondisi sisi permintaan perekonomian masih lemah yang ditunjukkan dengan inflasi yang rendah dan impor yang lebih rendah serta lemahnya permintaan kredit perbankan,” kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Senin (26/10/2020). ).

Josua melanjutkan, fungsi intermediasi sektor keuangan masih lemah akibat terbatasnya pertumbuhan kredit sejalan dengan lemahnya permintaan domestik dan kehati-hatian perbankan akibat berlanjutnya pandemi Covid-19.

Tercatat, pertumbuhan kredit pada September 2020 kembali turun dari 1,04 persen yoy pada Agustus 2020 menjadi 0,12 persen yoy. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat dari 11,64 persen yoy pada Agustus 2020 menjadi 12,88 persen yoy didorong oleh ekspansi keuangan Pemerintah.

Di tengah tren perlambatan kredit perbankan, rasio NPL per September tercatat di level 3,15 persen. “Oleh karena itu, sehubungan dengan keputusan OJK untuk memperpanjang masa pelonggaran restrukturisasi kredit, dapat memitigasi risiko peningkatan rasio NPL khususnya setelah Maret 2021,” ujarnya.

Manajemen risiko kredit, yaitu upaya menjaga agar rasio NPL tetap rendah, dinilai mampu menekan kenaikan ATMR, sehingga kondisi permodalan bank yang diindikasikan oleh CAR diharapkan tetap berada pada level yang tinggi (CAR perbankan per Agustus sebelumnya tercatat sebesar 23,39 persen).

Dengan demikian, dengan perpanjangan pelonggaran restrukturisasi kredit yang didukung oleh tren penurunan suku bunga perbankan menyusul penurunan suku bunga acuan BI dan kebijakan pelonggaran kuantitatif yang mendukung ketersediaan likuiditas di sektor perbankan, diharapkan kondisi kestabilan sistem perbankan. tetap kuat dan mendukung peningkatan fungsi intermediasi perbankan.

“Ke depan, fungsi intermediasi perbankan diharapkan semakin membaik sejalan dengan prospek kinerja korporasi yang membaik dan pemulihan ekonomi domestik serta konsistensi sinergi kebijakan dari kebijakan fiskal, moneter dan sektor keuangan lainnya,” ujarnya.

Reporter: Athika Rahma
Sumber: Liputan6.com [hhw]

.


Source link

Check Also

Triwulan III-2020, Penyaluran Pinjaman SMF Capai 99,47 Persen

Warta.top – Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF, Ananta Wiyogo, melaporkan penyaluran …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *