Home / uang / Menteri Sri Mulyani Soal Penanganan Covid-19: Stimulus Indonesia Luar Biasa

Menteri Sri Mulyani Soal Penanganan Covid-19: Stimulus Indonesia Luar Biasa

Warta.top – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, total stimulus seluruh negara di dunia akibat pandemi Covid-19 yang tercatat oleh Dana Moneter Internasional (IMF) mencapai USD11,7 triliun. Angka ini setara dengan 12 persen dari PDB dunia.

Ia memahami, angkanya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Indonesia. Pada 2020 saja, total stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) baru mencapai sekitar USD40 miliar dengan defisit 6,1 persen.

“Dibandingkan dengan besaran stimulus global, stimulus Indonesia sudah luar biasa, karena selama ini kita belum membiarkan defisit lebih dari 3 persen, dan utang tidak bisa melebihi 60 persen dari PDB,” ujarnya. Sri Mulyani dalam Webinar IAEI, secara virtual, Selasa (6/4).

Menurutnya ini langkah yang luar biasa. Di mana, anggaran pemulihan ekonomi nasional sekitar USD40 miliar bisa ditingkatkan pada 2021, karena Covid-19 belum tuntas.

“Karena tahun ini kami akan terus menyusun kebijakan untuk menghadapi Covid dan perekonomian mendekati Rp 700 triliun pada 2021, ini situasi yang akan mempengaruhi kebijakan saat ini dan yang akan datang. Oleh karena itu pasti ada konsekuensinya,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam situasi seperti ini pemerintah terpaksa melakukan sprint dan marathon, karena Covid-19 memang bukan jangka pendek. Setiap hari pemerintah harus waspada, cepat, waspada dan harus memiliki daya tahan yang lama. “Kalau soal vaksinasi, kita bisa bicara sampai 2022,” ujarnya.

Kementerian Keuangan: Defisit 2020 Capai 6,1 Persen Tapi Lebih Rendah dari Malaysia

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami guncangan yang cukup kuat pada tahun 2020. Tercatat defisitnya melebar hingga 6,1 persen, namun lebih rendah dari Malaysia dan Filipina.

“Tahun lalu, dengan defisit sekitar 6 persen lihat negara lain. Negara lain memiliki defisit yang jauh lebih dalam, Inggris dan Kanada. Anda bahkan bisa melihat AS, Jepang, Italia, Argentina dan Prancis. Filipina dan Malaysia, defisitnya jauh lebih dalam dari Indonesia., ”ujarnya, Selasa (6/4).

Suahasil menjelaskan, aktivitas ekonomi memang menurun drastis sepanjang tahun lalu. Penurunan tersebut terlihat pada aktivitas konsumsi, investasi dan ekspor-impor dari dalam dan luar negeri. Satu-satunya andalan adalah konsumsi pemerintah.

“Kita lihat aktivitas ekonomi menurun. Artinya konsumsi menurun, investasi menurun, ekspor dan impor menurun. Sumber pertumbuhan yang bisa kita jelaskan hanya dari belanja pemerintah,” ujarnya.

Selama ini, pemerintah selalu berupaya menjaga defisit dalam batas yang ditetapkan dalam undang-undang APBN, yakni 3 persen. Seperti diketahui, pandemi Virus Corona memaksa pemerintah melakukan penyesuaian pada berbagai pengeluaran di saat pendapatan tertekan.

“Pemerintah Indonesia menaikkan defisit kita dengan realisasi 6,1 persen. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kita Indonesia belum pernah melakukan itu sebelumnya, karena kita memanfaatkan batas fisik maksimal 3 persen, yang sangat jelas di hukum, “jelasnya.

[bim]

Baca juga:
Wapres Ma’ruf: UKM tidak bisa lepas dari digitalisasi
Wakil Presiden Ma’ruf: Diskon Pajak Mobil Ciptakan Multiplier Effect
Pimpinan DPR Jelaskan Tiga Prioritas Pemulihan Pasca Covid-19 Pasca Pandemi
Kapten Esther Gayatri, Pahlawan Pemberani Menerbangkan Pesawat Buatan RI ke Senegal
Menteri Koordinator Luhut Telepon Rp. 2 T Stimulus untuk Sektor Pariwisata Cair, Juni-Juli 2021
Kang Emil Ajak Masyarakat Promosikan UMKM dengan Posting Hasil Belanja di Media Sosial

.


Source link

Check Also

UU Cipta Kerja diharapkan dapat berkontribusi dalam pencegahan korupsi

Warta.top – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap, hadirnya Undang-Undang Cipta Kerja (UU) dapat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *