Home / sepakbola / Klub Shopee League 1 League 2020 yang kurang mendukung pendukung

Klub Shopee League 1 League 2020 yang kurang mendukung pendukung

Warta.top – Bola.com, Jakarta Mainkan dalam kasta tertinggi sepak bola Indonesia, yaitu Shopee Liga 1 2020, menjadi prestasi luar biasa. Namun, itu bukan jaminan bisa mencuri perhatian pendukung.

Jumlah klub yang lahir tanpa identitas seperti hasil merger menyulitkan mereka untuk menarik pendukung. Biasanya, klub hadir di tempat yang sebelumnya atau masih memiliki tim sepak bola.

Wajar jika klub sulit menarik hati suporter. Metode instan kemudian diambil dengan bergabung dengan klub yang sudah ada.

Namun, metode ini tidak selalu dapat memiliki dampak yang signifikan. Contohnya adalah Persikabo 1973, yang tahun ini mematenkan nama dan menghilangkan embel-embel Tira.

Klub menjadi pendukung paling minim sejak tampil di Liga 1 2017. Maklum, ketika klub mengambil alih lisensi Raja Ampat Persiram menggunakan nama PS TNI. Namanya cenderung lebih pribadi dan hanya untuk kalangan tertentu.

Pada 2017, PS TNI hanya mampu mengumpulkan 38.595 penonton dalam 34 pertandingan yang dimainkan. Jumlah penonton tertinggi dalam pertandingan PS TNI adalah 18.288 orang dan terendah 257 orang.

Memasuki musim 2018, PS TNI mengganti nama mereka menjadi PS Tira yang merupakan akromin dari TNI dan Rakyat. Perlahan tapi pasti ada peningkatan jumlah pemirsa musiman menjadi 25.385.

“Sayangnya, tim saya tidak memiliki suporter. Bagi saya, cukup sulit untuk bermain tanpa suporter di pertandingan kandang,” kata Aleksandar Rakic ​​yang menghabiskan musim 2018 bersama PS Tira.

Peningkatan jumlah pemirsa itu bisa dicapai ketika namanya diganti Tira Persikabo di musim 2019. Saat itu, data mencatat jumlah pemirsa Tira Persikabo per musim sebanyak 97.548 orang. Lonjakan tidak lagi membuat Tira Persikabo mendiami papan bawah jumlah pemirsa musiman.

Sekarang, dengan meninggalkan semua embel-embel TNI dan menggunakan nama Persikabo 1973, jumlah pemirsa diperkirakan mencapai Shopee Liga 1 2020 akan melambung. Nama itu lebih dekat dengan masyarakat terutama dengan pendukung Persikabo yang tinggal di Kabupaten Bogor

Tidak terpengaruh

Pendukung Bhayangkara FC merayakan gelar Liga 1 dengan konvoi dari Lapangan Bhayangkara ke PTIK, Jakarta, Selasa (12/12/2017). Polisi Nasional memberikan penghargaan kepada pemain dan resmi Bhayangkara FC. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Situasi yang tidak jauh berbeda dialami oleh Bhayangkara FC. Klub yang identik dengan Kepolisian Nasional Indonesia ini lahir menggunakan lisensi dari Persikubar Kutai Barat pada 2010.

Perlu mengubah beberapa nama dari Persikubar ke Persebaya, Bonek FC Surabaya, Surabaya United, Bhayangkara Surabaya United, dan menjadi Bhayangkara FC hingga saat ini. Pada 2017, Bhayangkara FC segera muncul dengan menggebrak dengan memenangkan liga.

Sebagai klub baru, jumlah penonton di Bhayangkara FC cukup bagus di 84.705 musim. Mayoritas penonton pertandingan Bhayangkara FC datang dari keluarga dan kerabat petugas Polisi yang menyebut diri mereka Bharamania.

Namun, terus terjadi penurunan jumlah pemirsa. Pada 2018, jumlah pemirsa musiman Bhayangkara FC akan menjadi 64.225.

Kemudian penurunan signifikan terjadi pada 2019 di mana jumlah pemirsa musiman menyentuh angka hanya 17.872. Angka itu menjadikan Bhayangkara FC klub dengan kehadiran musiman terendah.

Meskipun mereka tidak memiliki basis pendukung yang besar, banyak pemain bersedia bergabung dengan Bhayangkara FC. Alasannya adalah bahwa klub, dijuluki The Guardians, adalah salah satu klub yang memiliki dukungan keuangan besar dari sponsor.

“Adapun pendukung, saya tidak berpikir ada masalah. Kami sudah terbiasa dan Bhayangkara FC juga digunakan tanpa pendukung,” kata Ruben Sanadi, yang bergabung dengan Bhayangkara FC pada awal 2020.

“Bhayangkara FC beberapa musim lalu juga menang tanpa pendukung. Jadi, saya pikir tim ini sangat bagus,” kata Ruben Sanadi.

Kurangnya fasilitas

9 2015_.JPG
Aksi pendukung Borneo FC dalam pertandingan melawan Persib di leg pertama perempat final Piala Presidensial 2015 di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (20/9/2015). (Bola.com/M. Ridwan)

Klub lain yang memiliki basis pendukung minimal di Shopee Liga 1 2020 adalah Borneo FC. Klub ini lahir dari mantan kelompok pendukung Putra Samarinda yang kecewa dengan prestasi tim mereka.

Pada tahun 2014, manajemen kemudian membeli lisensi Perseba Super Bangkalan. Kemudian nama Pusamania Borneo FC terbentuk yang memulai debutnya di kompetisi kasta kedua pada tahun 2014.

Pusamania Borneo FC kemudian berhasil dipromosikan setelah menjadi juara. Sejak itu, Borneo FC telah kokoh di kompetisi top Indonesia.

Di era Liga 1 2017, Borneo FC telah mencatat jumlah pendukung musiman 116.423. Namun, jumlah itu mengalami penurunan pada 2018 yakni 72.504 dan menjadi 53.913 pada 2019.

Menurunnya jumlah pendukung yang menghadiri stadion diyakini karena keterbatasan fasilitas di Stadion Segiri, Samarinda. Manajemen kemudian merapikan dengan meningkatkan fasilitas stadion untuk dapat mendatangkan lebih banyak pendukung.

“Kami akan terus meningkatkan fasilitas stadion untuk membuat penonton nyaman untuk menghadiri stadion. Setiap kali kami pergi, kami akan belajar dari tim-tim di Indonesia bagaimana meningkatkan minat pendukung,” kata manajer Borneo FC, Dandri Dauri.

Tonton Video Pilihan Di Bawah Ini

.


Source link

Check Also

Dalam kasus Kekerasan, Saddil Ramdani Diancam Dipecat Bhayangkara FC

Warta.top – Bola.com, Jakarta – Saddil Ramdani mengancam sanksi berat dari Bhayangkara FC karena perilakunya. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *