Home / peristiwa / MUI Jember menyarankan doa Jumat 1 meter jauhnya atau doa diganti

MUI Jember menyarankan doa Jumat 1 meter jauhnya atau doa diganti

Warta.top – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pada bulan Juni, Jawa Timur mengeluarkan sejumlah taushiyah (nasihat / tip) kepada umat Islam, terkait dengan mencegah penyebaran virus korona. Saran atau tausiyah terutama terkait dengan pelaksanaan shalat Jumat yang akan berlangsung dari Jumat ini (27/3).

“Mungkin ini satu-satunya kabupaten (MUI) yang melakukan penelitian seperti ini. Selama dua hari terakhir, kami telah berdiskusi dengan intens, tidak hanya kepemimpinan MUI, tetapi juga Komisi Fatwa, komisi studi, kami mendiskusikannya secara online, “kata presiden MUI. Jember, Prof. KH Abdul Halim Soebahar di kediaman resmi Bupati Jember, Kamis (26/3) malam.

Rapat koordinasi juga hadir pada pertemuan tersebut, yaitu bupati Jember, komandan distrik Jember 0824 Jember, kepala polisi Jember, kepala Departemen Agama (Kemenag) Jember dan para pemimpin ” Organisasi Islam lainnya dan lembaga terkait.

Dalam tausiyahnya, MUI Juni bahkan tidak mendorong penghapusan sholat Jum’at.

“Berkenaan dengan sholat Jum’at, masjid dapat menahan mereka dengan mengikuti ketentuan protokol pencegahan Covid-19. Antara lain, jarak sosial minimal satu meter dilakukan,” lanjut Halim.

MUI Jember juga meminta umat beriman berdoa pada hari Jumat, untuk mengenakan topeng dan tidak berjabat tangan. “Masjid juga harus bekerja pada Thermo Gun Lacer Infrared (mengukur suhu tubuh), menyiapkan sabun anti-septik untuk mencuci tangan Anda di bawah air mengalir,” kata Halim.

Tausiyah ini didasarkan pada pertimbangan, antara lain, bahwa umat Islam harus mendukung pemerintah untuk mengatasi Covid-19, secara fisik dan mental. Untuk mengetahui selain shalat, juga dengan membiasakan diri dengan gaya hidup bersih dan sehat.

Meskipun memungkinkan sholat Jum’at di masjid, MUI Jember juga memungkinkan jamaah di masjid atau takmir untuk memilih untuk mengecualikan shalat Jumat.

“Masjid tidak dapat mengatur sholat Jumat untuk alasan darurat. Namun, umat Islam terpaksa menggantinya dengan empat rakaat di rumah, sampai kondisi normal (dari epidemi korona)” , lanjut pria yang juga profesor di IAIN Jember.

Selain itu, umat Islam juga disarankan untuk shalat berjamaah lima kali dengan keluarga mereka di rumah, hingga kondisi normal. “Tausiyah berlaku mulai 25 Maret 2020 dan akan ditinjau jika ada perubahan status penempatan Covid-19 yang baru pada Juni,” kata Halim.

Sementara itu, Bupati Jember, kata Dr Faida, status Jember saat ini adalah kondisi darurat. Status ini diberikan bahkan jika tidak ada kasus positif Corona pada bulan Juni. “Status Jember mengikuti status nasional, yaitu darurat Covid-19. Ketika Corona ditemukan positif, orang yang berhak mengumumkan adalah juru bicara negara,” kata bupati dengan pelatihan dalam profesi medis.

Jika pemerintah pusat kemudian mengumumkan bahwa ada kasus positif Corona pada bulan Juni, pemerintah kabupaten akan meningkatkan statusnya dalam Acara Luar Biasa Corona (KLB). “Ini belum menjadi epidemi, tetapi darurat korona. Jika status Jember kemudian berubah menjadi epidemi, maka kondisinya tidak lagi senyaman itu,” kata Faida.

Selain itu, Faida meminta masjid untuk tidak menggunakan karpet di lantai. “Kami berharap bahwa tanah akan menerima tanda khusus pada jarak satu meter,” pungkas Faida. [ded]

.


Source link

Check Also

Seorang pencuri yang buron dan sadis ditangkap selama 9 tahun saat dia berkabung di perkebunan kelapa sawit

Warta.top – Amir Hamzah (50) ditangkap setelah melarikan diri polisi di kebun sawit. Para penulis …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *