Home / peristiwa / Lihat pengolahan limbah Covid-19 di cluster Pondok Pesantren

Lihat pengolahan limbah Covid-19 di cluster Pondok Pesantren

Warta.top – Pemerintah kabupaten Banyuwangi penerapan protokol pengelolaan sampah khusus selama masa karantina di rombongan pesantren di Banyuwangi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi Husnul Khotimah mengatakan, penanganan sampah dan limbah yang dihasilkan selama masa karantina sedang ditangani khusus untuk mencegah penyebaran virus.

“DLH diberi tugas untuk mengelola limbah infeksius dan limbah yang dihasilkan selama karantina mulai dari santri pondok pesantren, dari kegiatan tenaga kesehatan hingga relawan dapur umum,” kata Husnul.

© 2020 Warta.top

Husnul mengatakan, limbah yang diolah adalah limbah padat dan limbah cair. Limbah padat dibagi lagi menjadi limbah padat rumah tangga dan limbah padat berbahaya atau yang biasa disebut dengan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

“Sampah padat rumah tangga adalah sampah yang dihasilkan dapur umum seperti sisa peralatan dapur, kertas, kantong plastik, dll. Sampah ini setiap hari dibawa oleh agen dan dibawa ke TPA. Jumlahnya dalam satu hari biasanya mencapai satu kontainer atau 8 meter kubik. Kata Husnul.

Selain itu untuk limbah padat B3 merupakan limbah yang dihasilkan dari kegiatan tenaga medis seperti masker, APD, sarung tangan, dll. Selain itu, sampah yang dihasilkan dari kegiatan siswa juga tergolong sampah B3.

“Misalnya kotak makanan yang harus dimakan santri dan sisa makanan di dalamnya. Kami mengklasifikasikannya sebagai sampah infeksius,” jelas Husnul.

Sejauh ini, hingga 6.000 siswa di karantina di dalam gubuk, mereka menerima makanan dari dapur umum tiga kali sehari. Semua limbah kotak makan dan sisa makanan ditangani sebagai limbah B3.

Kotak makanan keluar lebih dulu untuk disinfeksi. Setelah itu, kotak makanan tersebut ditempatkan di tempat sampah plastik berwarna kuning. Kemudian diikat dan disemprot lagi dengan desinfeksi sebelum diangkut sampah.

“Jadi aman sebelum langsung dimasukkan ke insinerator (mesin pembakar sampah),” kata Husnul.

Membakar sampah dari kotak makanan pasien korona untuk mencegah penyebaran virus. “Karena kalau kotak dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA), lalu dibongkar oleh pemulung, itu berbahaya, sehingga bisa diamankan di insinerator,” kata Husnul.

Untuk seluruh limbah B3, lanjut Husnul, DLH bekerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki sertifikasi pengelolaan limbah B3 dari Kementerian Kesehatan.

“Kami bekerja sama dengan pihak ketiga karena Banyuwangi belum memiliki insinerator 800 derajat untuk menangani limbah B3. Limbah B3 sendiri harus diolah dengan alat ini untuk mencegah penyebaran penyakit dan unsur berbahaya dari limbah tersebut.” , jelasnya.

Selain limbah padat, DLH juga mengelola limbah cair yaitu limbah yang dihasilkan dari WC umum portabel yang disediakan untuk para relawan di dapur umum dan petugas kesehatan.

“Sampah ini juga setiap hari dibawa oleh petugas kami,” imbuh Husnul.

Menurutnya, berakhirnya virus korona tidak hanya dibuktikan dengan kenegatifan seluruh masyarakat Indonesia. Hal terpenting adalah mengelola limbah covid-19.

“Misalnya tidak ada yang positif, tapi sampahnya tidak diolah dengan cepat. Virusnya aktif dan bisa menjangkiti masyarakat,” tutup Husnul. [hrs]

.


Source link

Check Also

Serka BP mabuk saat mengendarai mobil dan menabrak Briptu Andry

Warta.top – Komandan polisi Tentara (Danpom) Kodam Jaya Kolonel CPM Andrey Swatika Yogaswara mengungkap fakta …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *