Home / peristiwa / Bram membunuh pacar korban yang datang terlambat dan tidak diundang untuk bercinta

Bram membunuh pacar korban yang datang terlambat dan tidak diundang untuk bercinta

Warta.top – Rahmad alias Bram (23), seorang pekerja tambang di Konawe Utara, bertekad untuk menikam pacarnya, N (17), seorang siswa sekolah menengah, karena korban datang terlambat ketika kedua orang itu sepakat untuk bertemu dan memiliki menolak untuk berhubungan seks.

Penulis menikam kekasihnya 7 kali. Dua luka serius pada dada dan punggung menyebabkan kematian korban di tengah perkebunan kelapa sawit di desa Pariama, Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, pada hari Rabu 6/11).

Setelah menikam kekasihnya sampai mati, tubuhnya terlempar ke parit. Para penyerang panik, meskipun korban telah ditikam beberapa kali, tetapi dia bangkit ketika mencoba melarikan diri.

Keduanya hanya bertemu selama dua minggu sebelum pembunuhan. Korban lain mengumpulkan mereka di sebuah tempat di Konawe utara.

Selama kursus dua minggu, Bram harus datang dan pergi di lokasi tambang cukup jauh untuk bertemu N yang masih duduk di kelas 2 di North Konawe High School. Padahal, tata letak lokasi tambang dan kawasan perumahan bisa sangat menguras tenaga bila dipinjam oleh kendaraan roda dua.

Jarak menjadi salah satu alasan mengapa Bram tega membunuh N. Karena selain sering dibuat menunggu, korban selalu menolak ajakan untuk melakukannya. cinta dengan Bram.

Sebelum penyidik ​​penyelidikan kriminal distrik Konawe, ia mengakui bahwa selain terlambat, korban juga menolak undangan untuk bercinta dan untuk s & # 39; pelukan.

"Sebelum membunuh, dia menolak untuk dicium di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit, meskipun kami berpacaran dengan seseorang," kata Bram di kantor polisi Konawe, Sabtu (11:00). / 16).

Dia melanjutkan, sebelum mengambil nyawa N sekitar jam 21:22 WITA, siang itu dia berjalan N. Bahkan, lokasi rumah N dan tempat pertemuan mereka adalah d 39. sekitar 10 kilometer lagi.

Pada pertemuan di depan sekolah, N diundang ke sekolah asrama. Tapi dia menolak dan dijauhi.

Lalu terjadilah pertengkaran di antara keduanya. N terpaksa kembali ke rumah dengan sepeda motor, sementara para penyerang mengikuti di belakang.

Ketika mereka berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit, para penyerang memaksa korban untuk menciumnya. Tetapi korban menampar penulis.

Pada saat itu, para penyerang menjadi geram dan segera mencium dan menikam korban berulang kali. Korban yang berteriak kesakitan di perkebunan kelapa sawit menyebabkan kepanikan di antara penulisnya.

"Saya menusuk beberapa kali, dan kemudian mendorong korban ke parit hanya 3 meter dari tempat saya menikamnya," jelasnya.

Keesokan harinya (7/11), korban pembunuhan ini ditemukan terbaring di parit oleh keluarganya, dari beberapa daerah di Konawe utara. Keluarga korban pingsan setelah korban tidak pulang tadi malam.

Bram menderita penyakit raja singa

Setelah ditangkap dan dikutip sebagai tersangka, tim investigasi kriminal Polisi Konawe berhasil memastikan keselamatan para pelaku. Namun, pelakunya beralibi bukanlah orang yang membunuh korban.

Iptu Rahmat Zam-zam, kepala unit investigasi kriminal di Konawe, mengatakan bahwa para pelaku akhirnya ditangkap oleh polisi dari daerah Langgikima. Selain itu, polisi untuk mengejar bukti.

"Anggota kami dikejar, kami menerima pisau dari penulis yang biasa menusuk, pisau kuningan. Dia disimpan di salah satu rekannya," kata Iptu Rahmat Zam-zam.

Pisau ini disembunyikan di rumah rekannya yang bernama John. Ini dilakukan oleh Bram sehingga bukti tidak akan ditemukan oleh polisi.

Setelah ditangkap, Bram mengaku menderita sifilis atau nama raja singa. Sifilis adalah jenis infeksi genital pria karena kurangnya kebersihan.

Sifilis biasanya dilakukan oleh pria yang sering berganti pasangan tanpa mengkhawatirkan kebersihan. Jika ada yang menderita sifilis, AIDS akan menjadi ancaman nantinya.

"Ketika anggota memeriksa celana penulis, mereka menemukan jejak," kata Ipda Rahmat Zam-zam.

Ketika dia berada di Kantor Polisi Regional Konawe, Bram hanya berbicara tentang suara kecil atas permintaan beberapa wartawan. Dia tidak berani mengangkat matanya, berbicara hanya dengan suara yang agak keras, atas permintaan polisi.

Setelah membunuh korban, Bram melarikan diri dan disembunyikan. Terungkap, saat dia bersembunyi dari polisi, dia berusaha mencari alibi.

"Para pelaku telah diancam oleh pasal 338 dari KUHP Anak Perusahaan 340 KUHP atau oleh Undang-Undang No. 35 tahun 2014 yang mengubah UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak-anak. ", kata Rahmat Zam-zam.

Para pelaku diancam dengan hukuman seumur hidup. Namun, jika mereka diadili, para pelaku ditahan setidaknya 10 tahun penjara. (Cob)

(tagsToTranslate) Pembunuhan (t) Jakarta


Source link

Check Also

Komisi X DPR memberikan banyak "pekerjaan rumah" kepada Nadiem Makarim

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Liputan6.com/JohanTallo Warta.top – Seorang anggota Komisi X DPR memberikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *