Home / Cek-fakta / LIHAT FAKTA: Hoax Peneliti Autralia menyebut presiden Jokowi kurang kapasitas

LIHAT FAKTA: Hoax Peneliti Autralia menyebut presiden Jokowi kurang kapasitas

Warta.top – Posting tangkapan layar dari judul artikel Jokowi presiden tidak memiliki kemampuan yang diklaim peneliti Australia.

Tangkapan layar menunjukkan sumber artikel Berita IDNTODAY tanggal 4 September 2020. Judulnya berbunyi;

“Himbauan Peneliti Australia: Jokowi ‘Presiden Tidak Mampu’ Tapi Memiliki Kekuatan Penghancur.”

Cari

Hasil riset tim pemeriksa fakta merdeka.com yang ditautkan dengan Peneliti Autralia menyatakan Presiden Jokowi tidak memiliki kapabilitas, merupakan hasil edit artikel asli yang dimuat di IDNTODAY Berita (idntoday.co) tanggal 4 September 2020 berjudul “Peneliti Australia menyebut Jokowi sebagai walikota di istana presiden. “

Artikel tersebut juga dikenal sebagai peringatan atas artikel berjudul “Peneliti Australia Memanggil Jokowi sebagai Walikota di Istana Kepresidenan” di tribunnews.com pada 4 September 2020.

Berikut isi artikelnya:

Tindakan Presiden Joko Widodo / Jokowi dari seorang pengusaha furnitur hingga menjadi kepala negara telah mendorong para peneliti Australia untuk melakukan penelitian.

Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa Jokowi merupakan kontradiksi. Jokowi juga tidak akan bercermin sebagai presiden, pemimpin negara, tetapi selalu di level walikota.

Ben mengakui Jokowi adalah pemimpin yang populer, terpilih kembali dengan mayoritas meningkat, dan memiliki modal politik yang signifikan.

“Pertanyaan saya, bagaimana dia memanfaatkan ini? Dia terus mengatakan ingin mendorong Indonesia melakukan reformasi, tapi selama ini dia sangat berhati-hati,” ujarnya. katanya kepada ABC Indonesia.

Sejumlah “ kontradiksi ”

Jokowi Dalam bukunya, Ben menyebut “kalau dilihat lebih dekat, ternyata Jokowi sudah lama berada di istana [sebagai presiden], janji-janji itu telah pudar. “

Konon, begitu memasuki periode kedua, tokoh-tokoh yang sebelumnya mengusulkan untuk tidak menjadi bagian dari elite politik, menjelma menjadi elite yang membangun dinasti politiknya sendiri.

“Sosok yang pernah dipuja karena reputasinya yang sempurna telah melemahkan badan pemberantasan Korupsi, memicu protes mahasiswa dan mahasiswa, ”tulis Ben.

“Kelemahan kepemimpinannya terungkap dari krisis Covid-19. Pemerintahannya menunjukkan cara-cara yang buruk: tidak menghargai pendapat ahli kesehatan, waspada terhadap gerakan masyarakat sipil dan tidak mengembangkan strategi. terintegrasi, ”katanya.

Namun, Ben menyebut sosok Jokowi tetap populer di tengah pandemi dengan nada kritisnya yang terdengar “berbeda”.

Strategi politik Jokowi sangat sederhana, yaitu mendengarkan apa yang diinginkan masyarakat dan berusaha mewujudkannya, karena ia dipandang “efektif” ketika menjadi walikota Solo.

“Tapi ketika Anda memerintah negara dengan begitu banyak penduduk, ribuan pulau, berbagai agama dan etnis, serta 550 walikota dan gubernur terpilih, jadi 550 Jokowi lainnya yang ingin menjalankan kepemimpinannya masing-masing, maka politik menjadi semakin banyak. lebih kompleks, ”jelasnya.

“Selama enam tahun di istana, dia tidak bisa naik ke level strategis. Sebaliknya, dia walikota di istana presiden,” kata Ben Bland.

Ben mengatakan masih ada harapan kepemimpinannya akan berlanjut di Indonesia hingga 2024.

“Namun, kami harus mengakui kekecewaan Jokowi di pihak pendukungnya sendiri,” kata Ben kepada ABC Indonesia.

“Ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang besar, kompleks dan terus menghadapi banyak tantangan,” jelas Ben.

Ben juga menyampaikan bahwa melalui bukunya ia juga membahas sejumlah kontradiksi tidak hanya pada karakter dan kepemimpinan seseorang, tetapi mencakup lebih banyak hal.

Mencoba menjelaskan kontradiksi

Ben mengaku telah menghabiskan hampir 20 tahun memahami Indonesia, mulai dari mahasiswa politik Indonesia, kemudian sebagai koresponden media internasional, dan kini sebagai pengamat di Lowy Institute.

Selama delapan tahun terakhir, Ben mengaku terpikat dengan penampilan dan kerja keras Jokowi.

“Selain pembicaraan dengan Presiden, saya juga berbicara dengan puluhan menteri, pejabat, pengusaha yang mendukung Jokowi dan para pendukungnya untuk memahaminya,” jelas Ben.

Ben mengaku bertemu warga biasa langsung di luar Jakarta, mengunjungi berbagai tempat di Indonesia, dengan pesawat, mobil, kapal feri, perahu, becak untuk bermain.

“Saya sangat bersyukur bahwa kebanyakan orang Indonesia yang saya temui selalu menyambut baik semua pertanyaan saya,” ujarnya.

Diakui Ben, karyanya memang bukan biografi konvensional, tapi juga tak bisa menggambarkan seluruh aspek kehidupan Jokowi.

“Saya hanya ingin menikmati kisah seorang pembuat furnitur kota kecil yang menjadi pemimpin dunia dalam bercerita tentang Indonesia,” jelasnya.

Hanya dengan memahami kontradiksi Jokowi, katanya, orang bisa memahami sepenuhnya arah Jokowi dan negara yang ia kuasai.

Kesimpulan

Tangkapan layar artikel berjudul “Seruan Peneliti Australia: Jokowi” Presiden Tak Mampu “Tapi Memiliki Kekuatan Merusak”. merupakan hasil modifikasi.

Judul aslinya adalah “Sarjana Australia Disebut Jokowi sebagai Walikota di Istana Kepresidenan” diposting oleh idntoday.co.

Jangan mudah percaya dan verifikasi semua informasi yang Anda dapatkan, pastikan berasal dari sumber yang terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan. [noe]

.


Source link

Check Also

Merdeka.com Judul Berita tentang Syekh Ali Jaber dipotong oleh pihak yang tidak bertanggung jawab

Warta.top – Beredarnya tangkapan layar berita dengan tajuk ‘Berburu Rame-Rame Kambing Hitam’ dengan foto Syekh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *